Gadis Pluto~~ Bagian 1
Haii!! Ketemu lagi dengan aku hehe^^
Kali ini, aku mau berbagi cerita dengan kalian. Bisa dibilang ini cerita nyata tapi aku tambahin dengan imajinasi aku sendiri. Aku buat cerita ini disini supaya kalian bisa membacanya dan kelak ketika cerita ini telah usai, kalian akan bilang "Kenapa?"
Semoga kalian suka:)
Kali ini, aku mau berbagi cerita dengan kalian. Bisa dibilang ini cerita nyata tapi aku tambahin dengan imajinasi aku sendiri. Aku buat cerita ini disini supaya kalian bisa membacanya dan kelak ketika cerita ini telah usai, kalian akan bilang "Kenapa?"
Semoga kalian suka:)
~
~
~
~
~
~
~
~
~
~
“Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Yang aku tahu, ini terjadi secara tiba-tiba. Entah kapan, semuanya sudah terjadi begitu saja. Walaupun begitu, aku sangat menikmatinya. Memandang ia dari kejauhan dan mengaguminya secara sederhana adalah caraku untuk meredam rasa ini. Aku ingin menikmatinya dengan caraku sendiri. Aku tahu, ia tidak pernah menyadari apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku memang tidak ingin ia tahu dan selamanya akan terus begitu.”
~~~~~0~~~~~
Pagi ini benar-benar sangat melelahkan. Sedari tadi
aku sibuk mengatur barisan siswa baru dan mengecek peralatan apa saja yang
kurang demi kelancaran acara penyambutan para junior kami. Bulir-bulir cairan
menetes di dahi, pertanda bahwa aku sudah bekerja keras untuk acara ini. Belum
ada setengah hari, tapi aku ingin ini segera berakhir.
“Gio! Tolong bantuin gue angkat ini!” teriak seseorang.
Aku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat dan
melihat seorang laki-laki sedang mencoba mengangkat sebuah benda berbentuk
kotak hitam besar. Aku segera berlari ke arahnya, mengangkat benda itu di sisi yang lain.
“Ini mau dibawa kemana, Bang?” tanyaku dengan napas
sedikit tersengal.
“Letak disana aja,” jawabnya dengan memberi arah
melalui tatapan matanya. Sedetik kemudian, ia sibuk memperhatikan ke bawah,
takut sesuatu menyandung kakinya agar benda ini tidak terjatuh.
Sudah selesai. Aku ingin istirahat sejenak. Menjadi
anggota OSIS ternyata melelahkan juga. Anggapan orang-orang bahwa OSIS adalah
‘babu’-nya sekolah, aku tidak menyangkalnya. Aku merasa mereka ada
benarnya mengenai hal itu. Tapi, apapun pendapat mereka, aku sungguh tidak
peduli karena aku benar-benar menikmati pekerjaan ini. Di kelas 11 ini, aku
akan tetap mengikuti OSIS untuk menjalani periode selanjutnya.
Kembali ke topik tadi. Aku mencari tempat agak
tersembunyi untuk merehatkan diri. Aku tidak ingin anggota OSIS lainnya tahu bahwa aku sedang asyik beristirahat memandangi sekitar. Dengan gerakan spontan aku mengipas-ngipas wajahku dengan telapak
tangan, merasa gerah dengan udara di sekitarku yang terasa panas.
“Kita ke perpus aja, yuk! Kita ngadem disana!” seru
seorang perempuan.
Suara itu, aku seperti mengenalnya. Aku mencari-cari
ke arah sumber suara. Ingin melihat sosok gadis itu. Aku melihat segerombolan
perempuan lewat di belakangku. Tenyata benar, suara itu berasal dari arah
mereka. Aku mengenal salah satunya. Ia merupakan teman sekelasku saat kelas 10 kemarin. Di kelas 11 ini aku tidak tahu apa aku masih satu kelas dengannya atau... tidak lagi?
Jantungku berdegup kencang. Melihatnya saja, cukup
membuatku salah tingkah. Aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku.
Pasalnya, saat mendengar tawa gadis itu, seisi perutku seakan berputar-putar.
Sulit untuk menjelaskannya, tapi itulah yang aku rasakan.
Aku menatapnya terus dan tanpa sengaja, mata kami
bertubrukan. Mendadak aku menjadi gugup. Apa-apaan ini? Harusnya aku terlihat
biasa saja saat ia melihat ke arahku.
“Hai, Gio!” sapanya dengan riang.
Ya, hanya sesederhana itu dan berhasil membuat aku gugup
setengah mati. Aku tersenyum kaku untuk membalas sapaannya. Setelah itu, ia
tersenyum riang hingga matanya terlihat menyipit.
Tolong, aku ingin terbang sekarang!
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ia sudah
pergi. Entah mengapa, aku merasa kehilangan saat ia tidak berada di hadapanku.
Aku tidak tahu kapan ia akan menegurku lagi. Yang pasti, aku akan menunggu hari
itu tiba. Hari dimana ia akan menyapaku dan aku akan membalas sapaannya dengan
sebuah senyuman. Terlihat sederhana, tapi aku sudah cukup bahagia dengan hal
itu.
“Gio jangan main sendirian. Entar kerasukan, loh!”
suara itu kembali terdengar.
Kali ini jantungku seperti berhenti berdetak. Aku
kembali menatapnya. Ia tersenyum dengan gelak tawa sekilas lalu segera berlalu bersama
teman-temannya. Aku melihat punggung gadis itu yang kian menjauh.
Lucu… disaat ia berada di luar jangkauan, aku merasa
kehilangan. Dan disaat ia berada di dekatku, sepatah katapun tak mampu aku
lontarkan. Kenapa ini begitu rumit? Aku ingin bisa leluasa berbicara dengannya.
Aku ingin bisa melihat senyum dan tawanya dari dekat. Aku ingin semua itu bisa
aku lakukan. Tapi, nyatanya aku tidak mampu berbuat apapun. Hanya melihatnya,
itu yang bisa aku lakukan.
“Gio, kenapa disini?” tiba-tiba suara seorang
perempuan mengejutkan aku.
Aku melihat ke arahnya. Gadis berkacamata dengan bibir
yang dipoles sedikit liptint itu
sedang menatapku heran. Ah, dia pasti mencariku sedari tadi. Aku tersenyum,
sedikit kikuk. Untung saja ia datang sekarang. Jika ia datang sebelumnya, pasti
ia akan melihat perubahan wajahku saat melihat sosok gadis yang menyapaku tadi.
Aku berdiri. Membersihkan sisa tanah yang menempel di
celanaku. Aku sekarang bingung harus bagaimana. Gadis di hadapanku ini adalah
orang yang sudah bersamaku sejak masih SMP. Dialah orang yang berhasil
membuatku tertegun saat menatapnya. Wajahnya sangat cantik. Mirip seperti artis
Indonesia. Sampai sekarang aku masih heran bagaimana ia bisa menyukaiku. Entahlah,
semakin dipikirkan ternyata hanya membuang-buang waktuku saja. Yang jelas, aku
baru menyadari satu hal bahwa selama ini aku menyukainya secara fisik. Alasan yang
cukup jelas kan? Bukankah di zaman modern ini para pria berlomba-lomba untuk
merebut perempuan cantik agar bisa dipacari? Aku tidak ingin munafik, tapi aku
adalah salah satu dari sekian banyak pria itu.
Tapi, kami tidak berpacaran. Status “Teman Tapi Mesra”
sudah tersandang sejak lama saat kami memutuskan untuk tidak seperti kebanyakan
orang. Mau bagaimanapun, tetap saja menurutku status itu sama persis dengan
pacaran. Bedanya penamaan itu diubah dengan alasan “tidak mau pacaran dulu”.
“Udah sarapan?” tanyaku mencoba mengalihkan
kebingungannya.
Ia terdiam. Beberapa detik kemudian ia tersenyum, lalu
menggeleng dengan manja. Aku sedikit tertawa saat melihat wajahnya yang
mendadak imut. Tanpa kompromi, aku mengaitkan lenganku di antara jemari-jemari
kecilnya.
Ia tersentak saat aku menggenggam tangannya. Sedetik kemudian,
ia melepas kaitan itu. Aku dibuat bingung dengan sikapnya yang mendadak seperti
tidak pernah disentuh. Biasanya, ia tidak pernah begini. Bahkan jika aku sudah
menggenggam tangannya, ia akan mengeratkan kaitan itu.
Ada apa dengannya?
Bersambung...
~
~
~
~
Ini belum selesai yaa... jika kalian suka, aku akan update cerita ini disini... Makasih udah mampir^^
Komentar
Posting Komentar